Akulturasi Sains: Sarana Dakwah Islam di Era Post-Modern
Keywords:
Akulturasi sains, Dakwah Islam, Post-modernAbstract
Sarana alternatif dalam mendakwahkan Islam di era post-modern, sebagaimana pesan KH. Maimun Zubair yang menghimbau umat Islam agar berdakwah dengan mengikuti zaman. Maka ditengah hegemoni sains dan teknologi di zaman sekarang, umat Islam harus mampu memanfaatkannya sebagai sebuah sarana dalam mendakwahkan Islam. Sains dan teknologi secara umum memang dapat digunakan untuk tujuan apapun, baik itu dalam hal kebaikan ataupun keburukan. Fakta menunjukkan bahwa sejauh ini, teknologi telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai hal, termasuk dakwah Islam. Hal ini dikarenakan teknologi memang didesain untuk dapat dimanfaatkan secara langsung dalam kehidupan. Berbeda halnya dengan sains sebagai ibu kandung dari teknologi, terkadang tidak bisa diaplikasikan secara langsung dalam kehidupan. Selain itu, sains yang mendominasi kehidupan saat ini juga masih berangkat dari paradigma yang mengabaikan kepercayaan terhadap Tuhan. Oleh karena itu, sains tersebut harus diakulturasikan dengan nilai-nilai keislaman agar dapat menjadi sarana dakwah Islam yang sangat menekankan kepercayaan terhadap Tuhan. Catatan sejarah membuktikan bahwa proses akulturasi telah menjadi salah satu sarana kesuksesan Sunan Kalijaga dalam melakukan dakwah Islam, terutama pada masyarakat Jawa yang saat itu sudah sangat kental dengan pengaruh budaya lokal. Dengan demikian, ditengah kentalnya hegemoni sains dewasa ini umat Islam harus mampu melakukan proses akulturasi sains agar dapat menjadi sarana dakwah Islam di era post-modern.
Downloads
References
Anshari, Endang Saifuddin. 2004. Wawasan Islam: Pokok-Pokok Pikiran Tentang Paradigma dan Sistem Islam. Jakarta: Gema Insani Press.
Anwar, Chairil. 2000. Islam dan Tantangan Kemanusiaan Abad XXI. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bakhtiar, Amsal. 2013. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rajawali Press.
Basit, Abdul. 2013. Dakwah Cerdas di Era Modern. Komunikasi Islam. 03 (1): 76-94.
Cathcart, Thomas dan Daniel M. Klein. 2011. Plato Ngafe Bareng Singa Laut: Berfilsafat dengan Anekdot. Terj. P. Hardono Hadi. Yogyakarta: Kanisius.
Hasan, Muhammad Tholhah. 2005. Prospek Islam dalam Menghadapi Tantangan Zaman. Jakarta: Lantabora Press.
InspirasiAlquran, Tim. 2017. Dear Allah, Ternyata Engkau Dekat. Jakarta: Wahyu Qolbu.
Listiawati. 2017. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan – edisi pertama. Depok: Kencana.
Musa, Ali Masykur. 2014. Membumikan Islam Nusantara: Respon Islam terhadap Isu-Isu Aktual. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Nata, Abuddin. 2010. Metodologi Studi islam. Jakarta: Rajawali Pers.
Nurbaity. 2011. Pendekatan Green Chemistry Suatu Inovasi dalam Pembelajaran Kimia Berwawasan Lingkungan. Jurnal Riset Pendidikan Kimia. 1 (1): 13-21.
Sakdullah, M. 2014. Kidung Rumeksa ing Wengi Karya Sunan Kalijaga dalam kajian Teologis. Teologia. 25 (2): 1-16.
Santosa. 2013. Prinsip Toleransi Sunan Kalijaga dan Kontribusinya dalam Islamisasi Masyarakat Jawa. Kontekstualita. 28 (1): 34-46.
Sholikhin, Muhammad. 2010. Menyatu Diri dengan Ilahi. Jakarta: Narasi.
Sholikhin, Muhammad. 2013. Sufi Modern: Mewujudkan Kebahagiaan, Menghilangkan Keterasingan. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Taufik, M. Tata. 2013. Dakwah Era Digital. Kuningan: Pustaka Al-Ikhlash.
Wibowo, Ananto. 2008. Air Mata Tahajud. Yogyakarta: Pustaka Marwa.
Yusuf, Himyari. 2012. Eksistensi Tuhan dan Agama dalam Perspektif Masyarakat Kontemporer. Kalam. 06 (2): 215-234.
Zain, Muhammad. 2005. Menggugat Agama Baru di Era Postmodernisme. Ulumuna. 09 (2): 385-396.
Zed, Mestika. 2004. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Fillalily, Alhiyatuz Zakiyah. 2017. Terpuji dalam Laku, Terdepan dalam Ilmu. www.nu.or.id/post/read/74346/terpuji-dalam-laku-terdepan-dalam-ilmu (diakses pada 28 April 2018, pukul 07.45).
