Piramida Integrasi Keilmuan Islam dan Sains

Authors

  • Siswanto Masruri Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Abstract

Hampir semua universitas kelas dunia memiliki kesamaan karakteristik: pemimpin yang suportif, tenaga pengajar yang unggul, tradisi keilmuan dan kebudayaan yang kuat, mahasiswa yang hebat, perpustakaan yang lengkap, dan sistem finansial yang efektif. Jika kepemimpinan yang suportif merupakan bahan bakar yang menggerakkan, maka, tenaga pengajarnya merupakan mesin yang menghasilkan mutu dan para tenaga kependidikannya memiliki peran membantu menciptakan kondisi positif antarpribadi, kelompok, kelembagaan, dan keuangan di universitas. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia, UIN Sunan Kalijaga khususnya, telah memiliki jendela peluang yang besar untuk mengimplementasikan program-program akademiknya sebagai upaya meningkatkan daya saing internasional demi kemajuan bangsa.

Kehadiran paradigma integrasi-interkoneksi (Islam dan sains) yang dimotori oleh Rektor beserta jajarannya saat transformasi dari IAIN menjadi UIN merupakan anugerah akademik yang harus disyukuri dan ditindaklanjuti oleh UIN Sunan Kalijaga. Tulisan ”piramida integrasi keilmuan Islam dan sains” ini dilatarbelakangi oleh belum terimplementasikannya konsep integrasi keilmuan dengan baik yang disebabkan oleh beberapa faktor:  kepemimpinan, ketenagaan, kelembagaan, kekurangpahaman terhadap simbol-simbol akade-mik, dan core values UIN Sunan Kalijaga. Adapun tujuan tulisan sederhana ini antara lain untuk mewujudkan kembali upaya-upaya integrasi tersebut agar lebih mudah dipahami dan diimplementasikan oleh sebagian besar sivitas akademikanya.

Paradigma keilmuan integrasi-interkoneksi sebenarnya telah selesai meski masih banyak yang harus disempurnakan. Jika ada yang mengatakan hanya ayatisasi, sunahisasi, hadisisasi, atau apa pun namanya, dan tinggal simbol, maka, hal itu lebih meruapakan proses-proses penting yang menyertainya. Peran simbol dalam suatu masyarakat telah disadari oleh para ahli sejak beberapa waktu yang lalu. Nurcholish Madjid pernah menyebut Hugh Dalziel Duncan, yang dalam “preposisi aksiomatik I”nya mengatakan: “society arises in, and continues to edit through, the communication of significant symbol”. Duncan selanjutnya menjelaskan bahwa “simbol bermakna” (significant symbol) adalah “isyarat” atau “signal” yang tidak hanya menstimulasi orang lain, tetapi juga membangkitkan yang bersangkutan dengan makna yang sama dengan yang terbangkitkan. Dengan mengutip Talcot Parsons, Duncan akhirnya mengatakan mustahil berpikir tentang masyarakat tanpa berpikir tentang simbol-simbol dan bahwa elaborasi sistem tindakan manusia akan mustahil tanpa adanya sistem simbolik yang relatif mapan dan mantap.

Dengan mengutip QS Yunus 10:19, al-Anbiya’ 21:93, al-Mukminun 23:52, pernyataan Albert Einstein, Roger Lincoln Shin, dan core values UIN Sunan Kalijaga (integratif-interkonektif, dedikatif-inovatif, dan inklusif-continuous improvement) maka, integrasi keilmuan ini merupakan sebuah keniscayaan yang bermasadepan. Oleh karena itu, menjadi kewajiban sivitas akademika untuk merealisasikannya. Untuk jenjang S1 (kecuali yang memenuhi syarat dan mampu), tahapannya adalah “mengenal” atau “menyapa” (?????) sesama bidang ilmu, untuk jenjang S2 (kecuali yang memenuhi syarat dan mampu), tahapannya lebih meningkat yakni “menolong” dan “bekerjasama” (?????) dengan bidang-bidang ilmu yang lain, dan untuk jenjang S3, sebagai jenjang tertinggi, maka, seharusnya mampu memenuhi syarat dan mampu melakukan “pengintegrasian” (??????) beberapa bidang ilmu dan menghasilkan “temuan” (??????) tentang sesuatu yang baru (novelty). Semua ini dapat ditempuh melalui proses-proses metodologis seperti interkoneksi, komunikasi, kooperasi, similariti dan diferensiasi, apresiasi, rekognisi, dan resiprositi antarbidang ilmu, individu, kelompok, dan institusi menuju integrasi.

Akhirnya, proses-proses tersebut hanya dapat dilakukan oleh pemimpin yang suportif, tenaga pengajar dan mahasiswa dengan basis keilmuan dan syarat-syarat sebagai berikut: (1) memiliki ideal type keilmuan seperti Harun Yahya (The Miracle of Human Creation, 2003), Yusuf Al-Hajj Ahmad (The Unchalengeable Miracles of the Qur’an, 2010), Zakir Naik (Miracles of Al-Qur’an & As-Sunnah, 2016); (2) meyakini betul bahwa Al-Qur’an dan al-Sunnah merupakan dua pusaka abadi umat Islam; (3) memahami dan mengerti betul bahasa Arab dan bahasa-bahasa asing lainnya; (4) memahami dan mengerti betul kandungan al-Quran dan al-Sunnah; (5) memahami dan mengerti sebagian besar teori Ilmu-Ilmu Kealaman (Hard Sciences); (6) memahami dan mengerti betul sebagian besar teori Ilmu-Ilmu Sosial-Humaniora (Soft Sciences); (7) memiliki dana yang cukup; (8) memiliki kekuatan dan militansi akademik yang tinggi; (9) memahami dan mengerti betul Ilmu-ilmu Alat lainnya. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2018-10-01

How to Cite

Masruri, S. . (2018). Piramida Integrasi Keilmuan Islam dan Sains. Prosiding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam Dan Sains, 1, xiii. Retrieved from http://sunankalijaga.org/prosiding/index.php/kiiis/article/view/37

Issue

Section

Keynote Speech