Pembelajaran Sains Berbasis Keunggulan Lokal (PSBKL): Sebuah Upaya Strategis untuk Mewujudkan Pembelajaran Bermakna dan Berdaya Saing Global
Keywords:
Pembelajaran Sains Berbasis Keunggulan Lokal (PSBKL), Model Iqra’, pendekatan JAS, Pembelajaran bermakna, Daya saing globalAbstract
Persoalan pendidikan di Indonesia adalah rendahnya kualitas pendidikan. Parahnya hal ini ditambah gagalnya pendidikan dalam menanamkan dan menumbuhkembangkan pendidikan nilai. Hal ini akibat proses pendidikan yang textbookish yang terkesan kaku. Nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat asli yang penuh dengan nilai-nilai kearifan (local genius) diabaikan dalam pembelajaran khususnya dalam pembelajaran sains. Pembelajaran sains menjadi “kering” dan kurang bermakna bagi peserta didik. Maka perlu kiranya upaya strategis mewujudkan pembelajaran sains yang mampu mengembangkan aspek keilmuan sains, mengangkat aspek keunggulan lokal, sekaligus melestarikan nilai-nilai positif yang terkandung budaya masyarakat sehingga tercapai pembelajaran sains yang bermakna dan berdaya saing global. Tujuan paper ini mengkaji usaha-usaha mengembangkan Pembelajaran Sains Berbasis Keunggulan Lokal (PSBKL) sehingga tercapai pembelajaran sains yang bermakna. Hasil kajian menunjukkan PSBKL mengacu pada landasan yuridis Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal merupakan langkah strategis mengembalikan keunggulan lokal daerah sebagai modal berharga dalam pembelajaran sains. Upaya mewujudkan PSBKL dapat dilakukan melalui berbagai langkah dan strategi: menginventarisasi aspek potensi keunggulan lokal, menganalisis kondisi internal sekolah, menganalisis kondisi eksternal sekolah, menentukan jenis keunggulan lokal dan melakukan strategi pelaksanaan PSBKL. Alternatif implementasi PSBKL menggunakan model Iqra’ melalui pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS). Model pembelajaran Iqra’ memiliki 3 sintaks yaitu eksplorasi, konseptualisasi, dan komunikasi. Penerapan PSBKL mampu menjembatani pengetahuan dan keyakinan peserta didik yang merupakan budaya aslinya menuju konsepsi ilmiah. Subkultur sains modern di sekolah mampu harmonis dengan subkultur kehidupan sehari-hari peserta didik, pembelajaran sains akan berkecenderungan memperkuat pandangan siswa tentang alam semesta. Dengan kata lain, di satu sisi kompetensi dasar peserta didik meningkat dan kearifan keunggulan lokal tetap lestari.
Downloads
References
Chiappetta, E. L. & Koballa, T. R. (2010). Science Instruction in The Middle and Secondary Schools: Developing Fundamental Knowledge and Skills. New York: Allyn and Bacon.
Hamruni. (2009). Strategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif Menyenangkan. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.
Hardini, Isriani & Puspitasari, Dewi. (2012). Strategi Pembelajaran Terpadu. Yogyakarta: Familia.
Hasard, Jack. (2005). The Art of Teaching Science. Oxford: Oxford University Press.
Hodson, Derek. (2003). Teaching and Learning Science. Buckingham: Open University Press.
Karyani, Lilis. (2007). Meningkatkan Pemahaman Siswa Menggunakan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) dengan Model Iqro pada Materi Prinsip-prinsip Klasifikasi, Virus dan Monera di MAN 2 Semarang. Skripsi, tidak diterbitkan, Universitas Negeri Semarang, Semarang.
Mortimer, E. F. & Scott, P. H. (2003). Meaning Making in Secondary Science Classrooms. Philadelphia: Open University Press.
Mulyani, Sri dkk. (2008). Jelajah Alam Sekitar (JAS) Pendekatan Pembelajaran Biologi. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Nashir, Haedar. (2013). Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Budaya. Yogyakarta: Multi Presindo.
Pemprov DIY. (Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Budaya).
Prastyo, Erwin. (2013). Pengembangan Perangkat Pembelajaran IPA Terpadu Berbasis Model Iqra’ dan Mitigasi Bencana Erupsi Merapi. Skripsi, tidak diterbitkan, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Prasetyo, Z. K. & Dwianto, Agus. Science Domain Based Learning Integrated Local Wisdom to Improve Student’s Science Process Skills and Scientific Attitudes. Proceeding of International Seminar on Science Education, 31 Oktober 2015, UNY, 1-8.
Prasetyo, Z. K. Pembelajaran Sains Berbasis Kearifan Lokal. Makalah Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika: Pembelajaran Sains Berbasis Kearifan Lokal, UNS-Surakarta tanggal 14 September 2013.
Suastra, I. W. (2010). Model Pembelajaran Sains Berbasis Budaya Lokal untuk Mengembangkan Kompetensi Dasar Sains dan Nilai Kearifan Lokal di SMP. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Jilid 43 No. 42, 8-16.
Sumaji, dkk. (2009). Pendidikan Sains yang Humanistis. Yogyakarta: Kanisius.
Tim PBKL. (2011). Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Pembinaan SMA, Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah.
Wilujeng, Insih dkk. (2017). The Effect of Science Learning Integrated with Local Potential of Wood Carving and Pottery Towards the Junior High School Student’s Critical Thingking Skill. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 6(1), 103-109.
Zuchdi, Darmiyati dkk. (2011). Pendidikan Karakter dalam Perspektif Teori dan Praktik. Yogyakarta: UNY Press.
